Mazda resmi mengawali era baru di Indonesia dengan peresmian Mazda Indonesia Plant di Citeureup, Kabupaten Bogor, yang menjadi pabrik perakitan pertama Mazda di Tanah Air dan CX-30 dipilih sebagai model lokal perdana yang dirakit di fasilitas ini. Bukan sekadar lini perakitan baru, tetapi langkah strategis Mazda menjadikan Indonesia bagian dari jaringan manufaktur global mereka. Lewat investasi lebih dari Rp400 miliar, Mazda menunjukkan komitmen jangka panjang untuk membangun basis produksi berstandar internasional sekaligus memperkuat posisi di pasar otomotif nasional.
“Mazda Motor Corporation mendukung pengembangan Mazda Indonesia Plant melalui transfer pengetahuan manufaktur, sistem produksi, praktik manajemen kualitas, serta pengembangan kapabilitas Sumber Daya Manusia. Kami percaya bahwa kualitas dibangun oleh manusia, disempurnakan melalui proses yang disiplin, dan dipertahankan melalui perbaikan yang berkelanjutan.” ujar Toru Nakajima, Senior Executive Officer, ASEAN Business Office, Mazda Motor Corporation.

Mazda Indonesia Plant sendiri berdiri di atas lahan hampir 65.000 meter persegi di kawasan industri Citeureup dengan fasilitas yang cukup lengkap untuk sebuah pabrik perakitan modern. Di dalamnya terdapat lini produksi utama, area validasi kualitas, sampai jalur uji khusus (dedicated test track) serta berbagai fasilitas pendukung yang dirancang berdasarkan Mazda Global Manufacturing Standards. Di fase awal operasional, pabrik ini disiapkan untuk merakit CX-30 dengan kapasitas hingga lebih dari 10.000 unit per tahun melalui skema dua shift kerja.
Berbeda dengan banyak pabrik perakitan yang berbagi jalur produksi dengan berbagai merek dan model, Mazda Indonesia Plant didesain sebagai fasilitas rakit kendaraan yang hanya fokus pada Mazda. Artinya, layout, peralatan, cara kerja, dan alur produksi disusun mengikuti karakter mobil Mazda sehingga setiap tahapan bisa dijalankan konsisten dengan standar manufaktur global mereka. Mulai dari komponen yang datang, diolah lewat sistem manajemen gudang digital, dipersiapkan melalui proses kitting, hingga diteruskan ke tiap stasiun perakitan, semua dilakukan dalam satu alur terstruktur.

Di balik jalannya lini produksi, Mazda mengandalkan sistem eksekusi manufaktur digital yang membuat setiap komponen dan setiap unit kendaraan bisa dilacak jejaknya. Dengan pendekatan ini, jika ada potensi masalah kualitas, teknisi bisa menelusuri kembali proses mana yang perlu dikoreksi. Setelah mobil selesai dirakit, unit CX-30 dan model lain ke depan akan melewati rangkaian pengujian seperti penyetelan bodi, wheel alignment, tes dinamis di jalur uji, pengecekan kebocoran air, inspeksi kolong, hingga pemeriksaan akhir dan audit produk sebelum dinyatakan siap dikirim.
Soal kualitas, Mazda menegaskan bahwa pabrik baru ini tidak didorong mengejar volume semata, tetapi berpegang pada filosofi “Quality Before Volume”. Untuk memastikan hal itu, perusahaan menerapkan sistem pengendalian mutu berlapis di setiap tahapan produksi, termasuk Process Audit dan Product Audit yang dilakukan secara berkala. Selain itu, penerapan Mazda Quality Index for Customer (MQIC) dan audit oleh pihak independen internasional jadi filter tambahan agar standar global tetap terjaga di fasilitas produksi lokal.

Di sisi SDM, Mazda Indonesia Plant diramaikan oleh tenaga kerja lokal yang sudah lebih dulu dibekali pelatihan intensif. Tim Mazda Motor Corporation dari Jepang turun langsung mendampingi, mulai dari urusan teknis perakitan sampai budaya kerja yang mengedepankan semangat Monozukuri, Takumi Craftsmanship, dan pola pikir zero defect. Mazda percaya kualitas mobil tidak hanya ditentukan oleh mesin dan teknologi, tapi juga oleh orang-orang di balik prosesnya, sehingga investasi di pelatihan menjadi bagian penting dari proyek pabrik ini.
Kehadiran Mazda Indonesia Plant juga dipandang pemerintah sebagai angin segar bagi industri otomotif nasional. Dengan kapasitas produksi yang bisa tembus 10.000 unit per tahun serta potensi bertambahnya model rakitan lokal, pabrik ini diharapkan mendorong aktivitas manufaktur dalam negeri, membuka lapangan kerja, penguatan alih teknologi, pengembangan Sumber Daya Manusia, serta perluasan penyerapan tenaga kerja di sektor otomotif.

